Ribuan Warga Swedia Gunakan Mikrochip di Tangan untuk Akses Digital, Begini Cara Kerjanya

Ribuan Warga Swedia Gunakan Mikrochip di Tangan untuk Akses Digital, Begini Cara Kerjanya
liputanjayaraya.com,

Penggunaan mikrochip yang ditanam di bawah kulit tangan masih menjadi salah satu contoh penerapan teknologi biohacking di Swedia.

Ribuan warga di negara tersebut secara sukarela memilih menanamkan mikrochip berukuran sekitar sebutir beras untuk memudahkan berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari membuka pintu hingga mengakses layanan digital tertentu.

Mikrochip tersebut memanfaatkan teknologi Near Field Communication (NFC) dan Radio-Frequency Identification (RFID), yaitu teknologi yang juga digunakan pada kartu akses elektronik dan sistem pembayaran tanpa kontak. Berbeda dengan anggapan yang beredar di media sosial, chip ini tidak memiliki baterai maupun GPS sehingga tidak dapat memancarkan sinyal secara terus-menerus ataupun melacak lokasi penggunanya.

Teknologi tersebut hanya dapat berfungsi ketika berada sangat dekat dengan perangkat pembaca (reader). Pengguna cukup mendekatkan tangan ke alat pemindai agar data yang tersimpan di dalam chip dapat dikenali oleh sistem.

Di Swedia, mikrochip telah dimanfaatkan sebagai pengganti kartu akses gedung, kartu keanggotaan, identitas digital tertentu, hingga tiket kereta dalam program uji coba yang pernah dilakukan operator kereta nasional SJ. Pada 2017, SJ menjadi perusahaan transportasi pertama yang menguji penggunaan mikrochip sebagai media validasi tiket bagi anggota program loyalitasnya.

Meski demikian, penggunaan mikrochip masih bersifat terbatas dan bukan merupakan identitas resmi yang menggantikan dokumen negara seperti kartu identitas atau surat izin mengemudi. Pemasangan chip juga sepenuhnya bersifat sukarela dan bukan bagian dari kebijakan wajib pemerintah Swedia.

Para pendukung teknologi ini menilai mikrochip menawarkan kemudahan karena dapat mengurangi ketergantungan pada kartu fisik maupun kunci konvensional. Sebaliknya, sejumlah pakar menilai penerapannya tetap perlu memperhatikan aspek keamanan siber, perlindungan data pribadi, serta standar enkripsi agar tidak rentan terhadap penyalahgunaan.

Seiring berkembangnya teknologi identitas digital, penggunaan mikrochip di bawah kulit masih menjadi pilihan sebagian kecil masyarakat dan belum menjadi standar global. Hingga kini, implementasinya lebih banyak digunakan untuk kebutuhan akses dan identifikasi dibandingkan sebagai pengganti seluruh dokumen maupun sistem pembayaran sehari-hari.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Shohib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *