Di balik senyum cerianya, Ayunda (10) menyimpan kisah kehilangan yang membentuk perjalanan hidupnya.
Sejak berusia sekitar tiga tahun, ia harus menerima kenyataan ditinggal sang ibu untuk selamanya akibat penyakit liver.
Sepeninggal ibunya, Ayunda diasuh oleh bibinya yang dengan penuh kasih sayang mengambil peran sebagai orang tua.
Meski tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh perhatian, kehilangan sosok ibu di usia dini meninggalkan dampak emosional yang tidak kecil bagi Ayunda.
Pada masa sekolah, Ayunda sempat menjadi sasaran ejekan terkait kondisi keluarganya. Pengalaman tersebut membuatnya tumbuh sebagai anak yang pemalu, kurang percaya diri, dan enggan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Namun, perlahan kondisi itu berubah. Dukungan dari sang bibi serta pendampingan yang diterimanya membantu Ayunda bangkit.
Kini, ia mulai menunjukkan perubahan menjadi pribadi yang lebih ceria, percaya diri, dan bersemangat menjalani aktivitas belajar.
Di tengah segala keterbatasan yang dihadapi, Ayunda tetap menyimpan cita-cita besar. Ia ingin menjadi seorang dokter agar kelak dapat membantu banyak orang yang sedang berjuang melawan penyakit.
Kerinduan kepada sang ibu masih kerap hadir. Saat perasaan itu datang, Ayunda biasanya mengunjungi makam ibunya atau melihat kembali foto dan video kenangan yang tersimpan di telepon genggamnya.
Cara sederhana itu menjadi pengobat rindu kepada sosok yang telah tiada.
Saat ini, Ayunda merupakan salah satu anak yatim binaan Yayasan Alfatihah.
Melalui program pendampingan, yayasan berupaya memastikan anak-anak yatim tetap memperoleh akses pendidikan, pembinaan karakter, serta dukungan psikososial agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Yayasan Alfatihah meyakini setiap anak, termasuk anak yatim, memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan dan meraih cita-cita.
Karena itu, dukungan dari masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam membuka kesempatan bagi mereka untuk memperoleh masa depan yang lebih baik.
Melalui kolaborasi berbagai pihak, harapan agar Ayunda dapat terus melanjutkan pendidikan dan mewujudkan impiannya menjadi seorang dokter diharapkan dapat terjaga.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa keterbatasan dan kehilangan bukanlah akhir dari sebuah mimpi, melainkan awal dari perjuangan yang membutuhkan dukungan bersama.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!