Robot Mulai Patroli, Polisi Manusia Tersisih?

Robot Mulai Patroli, Polisi Manusia Tersisih?
liputanjayaraya.com,

Teknologi kecerdasan buatan mulai mengubah cara pengawasan lalu lintas dilakukan. Di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China, robot kini dikerahkan untuk membantu memantau ketertiban pengguna jalan.

Sebanyak 15 robot lalu lintas bernama “Hangjing Zhixing” dikembangkan perusahaan teknologi lokal SUPCON Information. Robot tersebut tidak hanya berdiri di satu titik, tetapi telah dibekali kemampuan melakukan patroli secara mandiri.

Salah satu model robot memiliki tinggi sekitar 1,88 meter dengan berat 98 kilogram. Perangkat tersebut dilengkapi kamera, radar, serta sistem komputasi untuk mendeteksi kondisi di sekitarnya.

Robot dapat mengenali sejumlah pelanggaran lalu lintas, antara lain pengendara sepeda listrik yang tidak mengenakan helm, membawa penumpang, kendaraan yang berhenti melewati garis, serta pejalan kaki yang menyeberang ketika lampu lalu lintas belum mengizinkan.

Ketika menemukan pelanggaran, robot memberikan peringatan kepada pengguna jalan. Namun, robot tersebut tidak memiliki kewenangan untuk menangkap atau menindak pelanggar secara langsung.

Fungsinya juga diperluas sebagai layanan publik. Masyarakat dapat bertanya mengenai arah jalan, lokasi parkir dan aturan lalu lintas. Dalam situasi darurat, robot dapat membantu menghubungkan pengguna dengan kepolisian setempat.

Kemampuan navigasinya memungkinkan robot menentukan rute patroli, bergerak secara mandiri, menghindari rintangan dan berhenti ketika menemukan hambatan. Robot juga mampu mengikuti lampu lalu lintas saat berada di kawasan penyeberangan.

Dari sisi komunikasi, robot dilengkapi mikrofon dengan teknologi pengurang kebisingan serta sistem large language model (LLM) sehingga dapat memahami pertanyaan pengguna, termasuk pertanyaan yang disampaikan secara tidak spesifik.

Layar robot juga dapat menampilkan peta navigasi, informasi wisata dan cuaca secara real-time. Robot tersebut dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Mandarin dan Inggris.

Sejak beroperasi penuh pada libur May Day, 15 robot itu disebut bekerja rata-rata lebih dari sembilan jam setiap hari. Otoritas setempat mencatat lebih dari 11.000 layanan publik telah diberikan dan lebih dari 230.000 pengingat pelanggaran lalu lintas telah disampaikan.

Meski menawarkan efisiensi, teknologi tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Kamera dan radar robot dapat terpengaruh oleh paparan sinar matahari yang kuat, hujan maupun suhu ekstrem.

Lalu, bagaimana jika teknologi serupa diterapkan di Indonesia?

Dengan kondisi lalu lintas yang padat dan karakter jalan yang beragam, kehadiran robot pengawas tentu akan menghadirkan tantangan tersendiri.

Persoalan akurasi, perlindungan data pribadi, kewenangan penindakan hingga mekanisme pengawasan terhadap teknologi juga perlu menjadi perhatian.

Apakah robot cukup menjadi alat bantu polisi, atau suatu saat pengawasan lalu lintas akan semakin banyak diserahkan kepada mesin?

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Shohib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *