Surabaya — Kasus dugaan keracunan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Surabaya terus bertambah. Tidak hanya ratusan siswa, sejumlah guru juga dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan yang dibagikan di sekolah pada Senin (11/5/2026).
Pihak RS Ibu dan Anak IBI Surabaya mencatat sebanyak 129 pasien menjalani penanganan medis akibat insiden tersebut. Dari total itu, lima orang merupakan guru, sedangkan 124 lainnya adalah siswa.
Direktur Utama RS IBI Surabaya, dr Ramli Tarigan mengatakan para guru yang mengalami gejala keracunan hanya menjalani rawat jalan karena kondisi mereka relatif stabil.
“Guru juga ada, lima orang. Tapi rawat jalan saja. Total sampai update terakhir ini ada 129 pasien, terdiri dari lima guru dan 124 siswa,” kata Ramli saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (12/5/2026).
Salah satu sekolah yang terdampak cukup banyak adalah SD Pancasila 45 Surabaya. Kepala sekolah, Subandi, mengaku turut menjadi korban setelah menyantap makanan tester sebelum dibagikan kepada siswa.
Menurutnya, pihak sekolah menerima dua ompreng makanan sebagai sampel untuk guru. Menu yang disajikan terdiri dari nasi, daging krengsengan, tumis wortel dan buncis, tahu goreng, serta jeruk potong.
Subandi mengaku tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan pada makanan tersebut, baik dari aroma maupun rasa. Karena itu, ia menghabiskan seluruh makanan sebelum distribusi dilakukan kepada siswa.
“Saya makan testernya dulu sebelum dibagikan ke anak-anak. Tidak ada yang aneh, baunya juga normal,” ujarnya.
Namun sekitar 30 menit setelah makan, ia mulai merasakan mual hingga muntah. Menyadari kondisi itu, Subandi langsung meminta guru-guru memeriksa para siswa di kelas.
“Setengah jam kemudian saya muntah. Saya langsung minta guru cek anak-anak, ternyata ada yang mulai pusing, mual sampai muntah,” katanya.
Di SD Pancasila 45, tercatat sekitar 71 orang mengalami gejala keracunan. Sebanyak 22 korban sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.
Pihak sekolah mengaku langsung berkoordinasi dengan penyelenggara MBG, puskesmas, serta rumah sakit untuk melakukan penanganan cepat terhadap para korban.
Insiden ini menjadi perhatian serius karena jumlah korban yang terus bertambah. Berdasarkan data sementara, total siswa yang mengalami dugaan keracunan MBG di Surabaya mencapai sekitar 200 orang.
Sebagian besar korban mengalami gejala mual, muntah, pusing, dan sakit perut setelah menyantap makanan program tersebut.
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan masih dalam proses penyelidikan. Petugas kesehatan disebut telah mengambil sampel makanan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.(detikjatim)
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!