Warga Surabaya dan sejumlah wilayah di Jawa Timur mulai merasakan udara yang lebih dingin dari biasanya, terutama pada malam hingga menjelang pagi.
Kondisi ini merupakan fenomena bediding yang lazim terjadi selama musim kemarau.
Menurut penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara di Surabaya pada malam hari berpotensi turun hingga sekitar 18 derajat Celsius.
Sementara itu, di wilayah dataran rendah suhu umumnya berkisar 18–22 derajat Celsius, sedangkan di kawasan dataran tinggi dapat mencapai 15–18 derajat Celsius, bahkan lebih rendah pada lokasi tertentu.
Fenomena bediding dipengaruhi oleh angin muson timur yang membawa massa udara kering dan lebih dingin dari Benua Australia menuju Indonesia.
Selain itu, minimnya tutupan awan selama musim kemarau menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, suhu udara menurun dan udara terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.
BMKG menjelaskan, besarnya penurunan suhu dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti kondisi cuaca, ketebalan tutupan awan, kecepatan angin, serta karakteristik geografis masing-masing wilayah.
Kondisi udara dingin ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
Meski suhu terasa lebih rendah, BMKG menegaskan bahwa fenomena bediding merupakan kondisi alam yang normal dan hampir selalu terjadi pada musim kemarau di Indonesia.
Masyarakat diimbau mengenakan pakaian yang lebih hangat saat beraktivitas pada malam hingga pagi hari, menjaga daya tahan tubuh, serta memberikan perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit tertentu agar terhindar dari gangguan kesehatan akibat udara dingin.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!