Ikram Maulana Malik (16), remaja asal Bantarsari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan yang diduga dilakukan sekelompok orang yang disebut-sebut sebagai anggota geng motor.
Ikram mengembuskan napas terakhir pada Rabu (2/9/2026), setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama tiga hari akibat mengalami luka parah di bagian kepala.
Peristiwa pengeroyokan itu terjadi setelah Ikram bersama sejumlah temannya menonton konser band Superman Is Dead di kawasan bekas Terminal Cilembang, Jalan Ir Djuanda, Kota Tasikmalaya, pada Minggu (28/8/2026) dini hari.
Ibu korban, Meli Meliawati, mengatakan kondisi anaknya memburuk setelah mengalami luka serius akibat pengeroyokan tersebut.
“Doakan anak saya, Pak. Sempat dirawat tiga hari di rumah sakit sampai akhirnya meninggal dunia kemarin. Saya minta keadilan saja, segera para pelakunya ditangkap oleh Pak Polisi,” ujar Meli kepada wartawan di rumahnya, Kamis (3/9/2026).
Dikeroyok Saat Beristirahat di Pinggir Jalan
Meli menuturkan, berdasarkan keterangan teman-teman korban, Ikram dan sejumlah rekannya sedang beristirahat di tepi jalan setelah selesai menyaksikan konser.
Tidak lama kemudian, sekelompok orang yang mengendarai beberapa sepeda motor menghampiri mereka. Kendaraan tersebut disebut menggunakan knalpot brong.
Pengeroyokan berlangsung secara cepat. Ikram kemudian terjatuh dan mengalami luka parah di bagian kepala.
“Anak saya terkapar katanya di jalan dengan luka di kepala bersimbah darah. Karena katanya kejadiannya sangat cepat, diduga dipukul pakai benda keras oleh pengeroyok ke bagian kepala,” kata Meli.
Setelah Ikram terjatuh, kelompok tersebut disebut langsung meninggalkan lokasi. Teman-teman korban kemudian membawa Ikram ke rumah sakit dengan didampingi petugas kepolisian.
Namun, setelah menjalani perawatan selama tiga hari, kondisi Ikram terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia.
Ibu Tegaskan Ikram Bukan Anggota Geng Motor
Meli menegaskan bahwa anaknya bukan bagian dari kelompok geng motor.
Menurut dia, setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat MTs, Ikram sehari-hari berjualan jajanan jagung susu keju (Jasuke) di tepi jalan untuk membantu aktivitas dan memenuhi kebutuhannya.
“Anak saya itu setelah lulus MTs di Bantar, dekat rumah, langsung jualan jajanan Jasuke di tepi jalan. Jadi anak saya itu bukan geng motor. Anak saya hanya main, nonton konser setelah mereka beres berdagang,” ujarnya.
Keluarga berharap aparat kepolisian segera mengungkap kasus tersebut dan menangkap seluruh pelaku yang bertanggung jawab atas kematian Ikram.
Meli juga meminta para pelaku menyadari perbuatannya dan mengikuti seluruh proses hukum yang berlaku.
“Saya doakan saja mereka sadar dan mengakui perbuatannya dengan proses hukum. Karena kalau tidak sadar dan masih seperti itu, pasti mereka dihukum langsung secara alam oleh masyarakat yang sudah geram dengan perlakuan mereka,” katanya.
Kasus tersebut kini menjadi perhatian keluarga dan masyarakat. Pengungkapan identitas serta motif para pelaku diharapkan dapat dilakukan aparat kepolisian secara menyeluruh agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
