Persebaya : Pabrik Talenta Muda, Tapi Tak Pernah Menikmati Panennya

Persebaya : Pabrik Talenta Muda, Tapi Tak Pernah Menikmati Panennya
liputanjayaraya.com,

Persebaya Surabaya bukan sekadar klub sepak bola. Bagi Surabaya dan Bonek, Bajul Ijo adalah rumah, identitas, sekaligus tempat lahirnya banyak talenta muda.

Dari Karanggayam, Pakis, Lidah Wetan, Gedangan hingga kawasan Tanjung Perak, bibit-bibit pemain sepak bola terus bermunculan.

Ironisnya, Persebaya seperti sebuah pabrik yang sangat pandai mencetak pemain berbakat, tetapi kerap tidak menikmati hasil produksinya ketika sang pemain mencapai puncak karier.

Nama-nama seperti Andik Vermansyah, Evan Dimas, Rachmat Irianto, Hansamu Yama hingga Rizky Ridho menjadi bagian dari cerita panjang tersebut.

Andik pernah menjadi simbol kecepatan Bajul Ijo. Evan Dimas tumbuh menjadi gelandang yang dipuja setelah membawa Timnas Indonesia U-19 berjaya di level Asia Tenggara. Hansamu berkembang menjadi bek dan kapten yang diperhitungkan.

Namun, masa-masa terbaik mereka justru lebih banyak dihabiskan setelah meninggalkan Persebaya.

Begitu pula dengan Rizky Ridho. Ia merupakan produk akademi Persebaya dan menjalani debut profesional bersama Bajul Ijo ketika masih berusia 18 tahun.

Setelah kontraknya berakhir pada 2023, Ridho kemudian melanjutkan karier bersama Persija Jakarta. Di klub ibu kota itu, namanya semakin besar dan kini menjadi salah satu bek yang mendapat sorotan dalam sepak bola nasional.

Persebaya tentu tetap memiliki kebanggaan karena pernah menjadi bagian penting dari perjalanan pemain tersebut.

Tetapi bagi Bonek, ada pertanyaan yang sulit dihindari:

Mengapa rumah yang membesarkan mereka justru sering tidak menjadi tempat mereka menikmati masa keemasan?

Pertanyaan serupa kembali muncul setelah Marselino Ferdinan resmi menjadi bagian dari skuad Persija Jakarta pada bursa transfer awal Super League 2026/2027.

Marselino bukan pemain yang datang dari luar. Ia adalah produk pembinaan Persebaya.

Bocah yang dibina sejak usia muda itu mendapatkan debut bersama tim senior Bajul Ijo ketika berusia 17 tahun. Dari Surabaya, kariernya kemudian berkembang hingga berkiprah di Eropa.

Namun, ketika kesempatan pulang ke Surabaya dinanti, Marselino justru memilih jalan berbeda.

Pada hari terakhir bursa transfer, 23 September 2026, Persija mengumumkan kedatangannya.

Bagi Persebaya, ini tentu bukan sekadar kehilangan seorang pemain. Ini kembali membuka pertanyaan besar mengenai bagaimana klub mengelola dan mempertahankan aset-aset terbaik hasil pembinaannya sendiri.

Satu nama yang akhirnya benar-benar kembali adalah Rachmat Irianto.

Juni lalu, Persebaya mengumumkan bahwa Rachmat Irianto telah menandatangani kontrak multiyears.

Rian pulang setelah menjalani perjalanan bersama Persib, termasuk menjadi bagian dari kesuksesan klub tersebut meraih gelar juara.

Kepulangannya tentu disambut dengan kebanggaan.

Namun, di sisi lain, ada sebuah ironi yang kembali terasa: pemain yang dibesarkan Persebaya itu pulang setelah sebagian besar cerita terbaik dalam kariernya telah ditulis bersama klub lain.

Di sinilah persoalan sebenarnya berada.

Apakah Persebaya hanya ingin menjadi tempat lahirnya pemain, atau juga ingin menjadi tempat pemain-pemain terbaik itu mencapai puncak karier?

Sebab membangun akademi bukan sekadar menghasilkan pemain.

Pembinaan membutuhkan investasi, pelatih, fasilitas, kompetisi, waktu, dan kesabaran. Ketika seorang pemain kemudian berkembang menjadi aset besar dan justru mencapai puncak karier di klub lain, wajar apabila muncul pertanyaan mengenai keberlanjutan proyek pembinaan tersebut.

Tentu, keputusan seorang pemain untuk pindah klub memiliki banyak faktor. Kontrak, kesempatan bermain, ambisi karier, kebutuhan keluarga, tawaran klub lain, hingga pertimbangan profesional merupakan bagian dari sepak bola modern.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata menyalahkan pemain yang memilih pergi.

Pertanyaan yang lebih penting justru ditujukan kepada pengelolaan klub:

Bagaimana Persebaya membuat pemain-pemain terbaiknya merasa bahwa rumah mereka adalah tempat terbaik untuk berkembang dan mencapai puncak?

Bonek tidak hanya ingin melihat pemain binaan Persebaya menjadi bintang.

Bonek juga ingin melihat mereka menjadi bintang dengan lambang Bajul Ijo di dada.

Sebab kebanggaan terbesar sebuah akademi bukan hanya ketika mampu mengatakan, “Dia dulu anak kita.”

Kebanggaan terbesar adalah ketika klub bisa mengatakan:

“Dia anak kita, dan dia menjadi besar bersama kita.”

Kalau pola ini terus berulang, Persebaya berisiko hanya menjadi tempat lahirnya talenta bagi klub-klub lain.

Dan pertanyaan itu akan terus menghantui:

Sampai kapan Persebaya menjadi pabrik pemain hebat, tetapi klub lain yang menikmati masa panennya?

Bonek tentu ingin lebih dari sekadar nostalgia.

Mereka ingin melihat masa depan.

Arek e moleh. Arek e berkembang. Arek e menjadi bintang. Dan yang paling penting, Arek e tetap mengenakan jersey Bajul Ijo.

WANI!

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Shohib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *