Penghasilan Kecil, Haruskah Tetap Investasi? Ini Urutan Bijak Mengatur Keuangan

Penghasilan Kecil, Haruskah Tetap Investasi? Ini Urutan Bijak Mengatur Keuangan
liputanjayaraya.com,

Surabaya — Di tengah maraknya edukasi finansial, banyak masyarakat—terutama kalangan berpenghasilan terbatas—merasa bingung saat dihadapkan pada anjuran untuk mulai berinvestasi sejak dini. Di satu sisi, investasi disebut sebagai kunci masa depan. Namun di sisi lain, kebutuhan hidup sehari-hari masih menjadi tantangan utama.

Lantas, mana yang harus didahulukan: bertahan atau berinvestasi?

Para perencana keuangan menegaskan bahwa keduanya sama-sama penting, namun harus dijalankan dengan urutan yang tepat agar tidak menjadi beban di kemudian hari.

Utamakan Stabilitas Keuangan

Langkah pertama yang harus diprioritaskan adalah memastikan kondisi keuangan dalam keadaan stabil. Artinya, kebutuhan pokok seperti makan, tempat tinggal, dan biaya harian harus terpenuhi tanpa tekanan.

Selain itu, penting untuk menghindari kebiasaan “gali lubang tutup lubang” serta mulai membangun dana darurat, meskipun dengan nominal kecil. Dana darurat ini menjadi “napas” keuangan yang akan melindungi dari situasi tak terduga.

“Tanpa pondasi yang kuat, investasi justru berisiko menjadi beban, bukan solusi,” ujar salah satu praktisi keuangan.

Investasi Boleh, Asal Realistis

Meski penghasilan masih terbatas, bukan berarti investasi harus ditunda sepenuhnya. Masyarakat tetap bisa mulai dengan nominal kecil dan konsisten melalui metode Dollar Cost Averaging (DCA), yakni berinvestasi secara rutin dalam jumlah tetap.

Dengan cara ini, risiko fluktuasi pasar dapat ditekan, sekaligus membangun kebiasaan disiplin finansial sejak dini.

Sebagai contoh, menyisihkan Rp10.000 hingga Rp50.000 per minggu sudah cukup untuk memulai langkah awal sebagai investor.

Hindari Investasi Karena Tekanan

Kesalahan yang kerap terjadi adalah memaksakan diri untuk berinvestasi dalam kondisi keuangan belum stabil. Misalnya, masih memiliki utang konsumtif, kebutuhan harian belum tercukupi, atau hanya ikut-ikutan karena tren (fear of missing out/FOMO).

Kondisi tersebut dinilai berbahaya karena keputusan finansial didasarkan pada emosi, bukan perencanaan matang.

Naikkan Penghasilan, Bukan Hanya Mengandalkan Investasi

Para ahli juga menekankan bahwa bagi pemilik penghasilan kecil, peningkatan pendapatan justru memberikan dampak lebih besar dibandingkan mengejar keuntungan investasi semata.

Upaya yang bisa dilakukan antara lain meningkatkan keterampilan, mencari pekerjaan sampingan, serta memperluas jaringan peluang.

“Kenaikan penghasilan satu juta rupiah seringkali jauh lebih terasa dibandingkan imbal hasil investasi dalam jangka pendek,” tambahnya.

Atur Keuangan dengan Proporsi Seimbang

Sebagai panduan sederhana, pengelolaan keuangan dapat dibagi sebagai berikut:

70–80% untuk kebutuhan dan stabilitas

10–20% untuk tabungan atau dana darurat

5–10% untuk investasi secara bertahap

Kesimpulan

Investasi memang penting untuk masa depan, namun bukan prioritas utama jika kondisi keuangan belum stabil. Bertahan hidup dengan layak dan meningkatkan penghasilan tetap menjadi fondasi utama.

Investasi kecil yang dilakukan secara konsisten bukanlah jalan pintas menuju kekayaan, melainkan latihan membangun kebiasaan dan pola pikir finansial yang sehat dalam jangka panjang.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : GFR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *