Jangan Ajari Masyarakat Menghina Ulama

Jangan Ajari Masyarakat Menghina Ulama
liputanjayaraya.com,

Saya bangga pernah menjadi santri KH. Nurul Huda Djazuli. Bukan semata karena pernah mengaji di hadapan beliau, tetapi karena beliau mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi daripada ilmu: adab.

Saya masih teringat dawuh beliau:
“Saya sangat mencintai NU. Maka saya tidak ingin melihat pengurus NU bertengkar.”
Kemudian beliau melanjutkan:
“NU dan pesantren harus ta’anuq.”
Harus saling berangkulan, saling menguatkan, dan saling menjaga.

Bagi para ulama, kebesaran NU tidak dibangun oleh kemenangan satu kelompok atas kelompok lain, melainkan oleh kokohnya ukhuwah dan terjaganya adab.

Saya juga teringat dawuh yang dinisbatkan kepada KH. Idris Marzuki Lirboyo:
“Siapapun yang memusuhi NU, kalau dia seorang wali akan luntur kewaliannya. Kalau dia tokoh berpengaruh akan kehilangan pengaruhnya. Sebab NU didirikan para ulama dan direstui para auliya.”
Dua dawuh dari dua masyayikh besar ini seakan bertemu dalam satu pesan: jagalah NU dengan akhlak.

Hari ini, yang membuat hati sedih bukanlah adanya perbedaan pendapat. Perbedaan adalah sunatullah. Yang menyedihkan adalah ketika masyarakat disuguhi tontonan saling mencaci, media sosial dipenuhi meme yang merendahkan ulama, para masyayikh diadu domba, dan santri diajari bahwa menghina kiai adalah bagian dari perjuangan.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Innamā bu’itstu li utammima makārimal akhlāq.”
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Jangan ajari masyarakat menghina ulama. Karena ketika penghormatan kepada ulama runtuh, yang sesungguhnya sedang runtuh adalah penghormatan kepada ilmu.

Jangan ajari masyarakat mencaci para kiai. Karena lidah yang hari ini terbiasa merendahkan ulama, esok akan mudah merendahkan siapa saja.

Mari berbeda pendapat dengan adab. Mari berjuang tanpa menghilangkan rasa hormat. Mari menjaga NU sebagaimana para muassis dan masyayikh menjaganya: dengan keikhlasan, persaudaraan, dan akhlak.

Sebab NU adalah rumah yang dibangun oleh para ulama. Dan rumah sebesar ini tidak akan kokoh oleh suara yang paling keras, melainkan oleh hati-hati yang paling tulus dalam menjaga adab.

( Kang Bejo)

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Shohib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *