Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), pesan moral dari Wakil Rais Aam PBNU, KH. Afifuddin Muhajir, kembali menjadi perhatian publik. Dalam berbagai kesempatan, Kiai Afif menekankan bahwa Muktamar harus dipandang sebagai forum pengabdian kepada organisasi dan umat, bukan sebagai arena mengejar kehormatan maupun jabatan.
Pesan tersebut sejalan dengan kutipan yang beredar luas di media sosial, yang mengingatkan agar setiap peserta Muktamar datang dengan niat berkhidmat, menjauhi pengkhianatan, tipu muslihat, dan berbagai cara yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Menurut pesan itu, Muktamar akan bernilai mulia apabila dijalankan dengan keikhlasan serta mengutamakan kemaslahatan jam’iyah.
Kiai Afif menegaskan bahwa NU merupakan warisan para ulama yang dibangun melalui keilmuan, doa, dan pengabdian. Karena itu, setiap proses pengambilan keputusan di lingkungan organisasi harus dilandasi akhlak, amanah, dan tanggung jawab moral demi menjaga marwah Nahdlatul Ulama.
Dalam arahannya kepada jajaran PBNU, Kiai Afif juga mengajak seluruh pengurus mengakhiri masa khidmah dengan husnul khatimah, meninggalkan warisan keputusan yang bermanfaat bagi organisasi, serta mengesampingkan kepentingan pribadi maupun kelompok demi masa depan NU.
Ia berharap Muktamar mampu melahirkan keputusan-keputusan strategis yang menjadi manfaat bagi umat, bangsa, dan generasi penerus.
Di tengah dinamika menjelang Muktamar, berbagai kalangan menilai pesan tersebut menjadi pengingat penting agar proses permusyawaratan tetap berjalan dalam koridor ukhuwah, musyawarah, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Dengan demikian, Muktamar tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum memperkuat persatuan serta menjaga kehormatan organisasi yang telah diwariskan oleh para ulama pendiri NU.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!