Media Sosial dan Ancaman Sunyi terhadap Kesehatan Mental Generasi Digital

Media Sosial dan Ancaman Sunyi terhadap Kesehatan Mental Generasi Digital
liputanjayaraya.com,

Di tengah derasnya arus digital yang semakin mendominasi kehidupan masyarakat modern, perhatian terhadap dampak media sosial terhadap kesehatan mental kembali menjadi sorotan.

Dalam sebuah seminar neuroparenting, praktisi neurosains dan edukator keluarga, Aisah Dahlan, mengingatkan masyarakat akan bahaya penggunaan media sosial yang berlebihan terhadap fungsi otak dan kestabilan emosi.

Menurutnya, perkembangan teknologi memang memberikan banyak kemudahan dalam komunikasi dan akses informasi. Namun di sisi lain, penggunaan media sosial tanpa kontrol berpotensi memicu gangguan psikologis yang perlahan menggerus kualitas hidup seseorang.

“Banyak orang merasa cemas, mudah marah, sulit fokus, bahkan mengalami kelelahan emosional setelah berjam-jam berada di depan layar tanpa tujuan yang jelas,” ungkapnya dalam pemaparan yang membahas hubungan antara sistem saraf otak dan perilaku digital.

Secara ilmiah, otak manusia dirancang untuk merespons interaksi sosial yang nyata, seperti percakapan langsung, ekspresi wajah, dan sentuhan emosional. Namun, pola interaksi tersebut kini mulai tergeser oleh komunikasi virtual yang serba instan melalui media sosial.

Setiap notifikasi, jumlah tanda suka (likes), hingga komentar positif dapat memicu pelepasan dopamin, yaitu zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Ketika stimulasi tersebut terjadi secara terus-menerus, otak dapat terbiasa menerima kepuasan instan sehingga memunculkan kecenderungan kecanduan digital.

Para ahli menilai kondisi tersebut dapat berdampak pada menurunnya kemampuan konsentrasi, pengendalian emosi, serta meningkatnya kecenderungan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial.

Fenomena ini juga diperparah dengan munculnya budaya FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu perasaan takut tertinggal informasi, tren, atau pencapaian orang lain. Akibatnya, banyak pengguna media sosial yang tanpa sadar mengalami tekanan psikologis karena terus membandingkan kehidupannya dengan standar kebahagiaan yang ditampilkan di dunia maya.

Anak-anak dan remaja disebut menjadi kelompok yang paling rentan. Pasalnya, perkembangan otak mereka masih berada pada fase pembentukan sehingga lebih mudah terpengaruh oleh pola konsumsi digital yang tidak sehat.

Dalam konteks keluarga, para pakar neuroparenting mendorong orang tua untuk lebih aktif mengawasi penggunaan gawai pada anak. Pembatasan waktu layar (screen time), penguatan komunikasi langsung di rumah, serta penciptaan zona bebas gawai dinilai menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan mental keluarga.

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk mulai menerapkan pola hidup digital yang lebih seimbang melalui digital detox secara berkala. Langkah sederhana seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, mengurangi waktu scrolling tanpa tujuan, hingga memperbanyak aktivitas fisik dan interaksi sosial secara langsung dapat membantu otak mendapatkan waktu pemulihan yang dibutuhkan.

Para ahli menegaskan bahwa teknologi dan media sosial bukanlah musuh. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan mental dalam jangka panjang.

Di era ketika layar ponsel menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, kesadaran untuk mengendalikan teknologi dinilai menjadi kunci utama. Sebab pada akhirnya, masyarakat harus memastikan bahwa teknologi tetap menjadi alat yang membantu kehidupan, bukan justru mengambil alih kendali atas kesehatan mental dan hubungan sosial manusia.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Shohib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *