Isu ancaman blackout sistem kelistrikan Jawa–Bali tengah menjadi sorotan publik setelah beredarnya berbagai laporan mengenai menipisnya stok batu bara di sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Informasi tersebut ramai diperbincangkan di media sosial menyusul terjadinya pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah di Pulau Jawa dalam beberapa hari terakhir.
Sejumlah laporan menyebut cadangan batu bara untuk beberapa PLTU di sistem Jawa–Madura–Bali (Jamali) berada pada level kritis dan hanya mampu menopang operasional kurang dari dua pekan. Kondisi itu disebut memicu langkah pengaturan beban melalui pemadaman bergilir guna menjaga kestabilan pasokan listrik.
Pemadaman dilaporkan terjadi di sejumlah daerah, mulai dari Jakarta, Bekasi, Bogor, hingga beberapa wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Durasi pemadaman bervariasi, mulai dari puluhan menit hingga beberapa jam.
Meski demikian, hingga saat ini PT PLN (Persero) belum mengeluarkan pernyataan resmi yang mengonfirmasi adanya ancaman blackout massal pada sistem kelistrikan Jawa–Bali.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga membantah bahwa gangguan listrik yang terjadi disebabkan oleh krisis batu bara.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa pemerintah belum menerima laporan mengenai menipisnya stok batu bara untuk pembangkit listrik.
Menurutnya, gangguan yang terjadi lebih berkaitan dengan persoalan teknis pada sistem kelistrikan.
“Tidak ada batu bara menipis. Memang ada beberapa gangguan terkait teknis. Kalau ada isu akan ada pemadaman massal, itu tidak benar,” ujarnya di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Sebelumnya, data PLN dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI pada April 2026 menunjukkan stok batu bara nasional untuk PLTU berada pada kisaran 15,9 Hari Operasi Pembangkit (HOP). Namun, wilayah Jawa–Bali disebut menjadi salah satu sistem dengan cadangan terendah dibanding wilayah lain.
Institute for Essential Services Reform (IESR) turut menyoroti kondisi tersebut dan menduga ada keterkaitan antara pemadaman yang terjadi dengan persoalan pasokan energi primer pembangkit.
Meski begitu, dugaan tersebut masih memerlukan investigasi lebih lanjut dan belum menjadi kesimpulan resmi.
Di sisi lain, sejumlah laporan media menyebut pemadaman bergilir dilakukan sebagai langkah antisipasi menjaga keseimbangan pasokan listrik agar tidak terjadi gangguan yang lebih besar.
Namun informasi mengenai stok batu bara kritis, pengecualian wilayah tertentu, hingga potensi blackout masih banyak bersumber dari klaim internal dan informasi yang beredar di media sosial.
Pengamat menilai transparansi informasi dari otoritas terkait menjadi hal penting untuk mencegah kepanikan masyarakat sekaligus memastikan kondisi pasokan energi nasional tetap terkendali.
Hingga berita ini diturunkan, PLN masih belum memberikan penjelasan rinci terkait penyebab utama pemadaman yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa dalam beberapa hari terakhir.
Informasi dalam berita ini disusun berdasarkan laporan media dan pernyataan resmi terbaru.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!