Makna “Iqra'” dalam Perspektif Tasawuf, Membaca Diri Sebelum Menilai Orang Lain

Makna “Iqra'” dalam Perspektif Tasawuf, Membaca Diri Sebelum Menilai Orang Lain
liputanjayaraya.com,

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yakni perintah “Iqra'” (Bacalah), terus menjadi bahan perenungan para ulama dan pencinta ilmu. Tidak hanya dimaknai sebagai ajakan membaca tulisan, sebagian ulama tasawuf juga memandangnya sebagai seruan untuk membaca diri sendiri sebagai langkah awal mengenal Sang Pencipta.

Sebuah dialog reflektif yang beredar di tengah masyarakat menggambarkan makna tersebut. Dalam dialog itu, seorang murid bertanya mengapa wahyu pertama bukan perintah salat atau zikir, melainkan “Iqra'”.

Sang guru menjelaskan bahwa sebelum manusia membaca kitab, ia perlu belajar membaca dirinya sendiri—pikiran, hawa nafsu, keinginan, serta isi hatinya.
Dalam pandangan tasawuf, proses mengenal diri dipandang sebagai perjalanan spiritual yang menuntut kejujuran, introspeksi, dan penyucian hati.

Dengan memahami kelemahan, kesalahan, dan kecenderungan diri, seseorang diharapkan mampu memperbaiki akhlak serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Meski demikian, para ulama juga menegaskan bahwa makna utama ayat pertama tetap merupakan perintah untuk membaca atau melafalkan wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Penafsiran tasawuf dipahami sebagai pendalaman makna spiritual yang tidak bertentangan dengan makna lahir ayat tersebut.

Pesan yang dapat dipetik dari renungan ini adalah pentingnya menyeimbangkan tiga bentuk “bacaan” dalam kehidupan, yakni membaca wahyu sebagai petunjuk hidup, membaca alam sebagai tanda kebesaran Allah, dan membaca diri sendiri sebagai sarana memperbaiki hati serta akhlak.

Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, ajakan untuk memperbanyak muhasabah atau introspeksi dinilai tetap relevan. Sebab, mengenal diri sendiri sering kali menjadi langkah awal menuju kebijaksanaan, kerendahan hati, dan kedewasaan dalam menjalani kehidupan.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Shohib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *