LUMAJANG – Ketahanan keamanan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sedang diuji serius. Dalam kurun waktu kurang dari dua minggu, wilayah ini diguncang oleh serangkaian aksi pencurian dengan kekerasan (curas) atau yang lebih dikenal sebagai begal. Aksi-aksi brutal tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga memakan korban jiwa serta melibatkan pelaku di bawah umur.
Hingga Rabu (6/5/2026), Kepolisian Resor (Polres) Lumajang masih bekerja ekstra keras membongkar jaringan komplotan yang meresahkan pengguna jalan, khususnya di jalur-jalur sepi seperti Jalan Lintas Selatan (JLS) dan Jalan Nasional Jember-Lumajang.
Kronologi Kekerasan yang Meningkat
Gelombang kejahatan ini dimulai pada Minggu malam, 26 April 2026. Muhammad Taufik Hidayat, warga Desa Sumbersuko, menjadi korban saat melintas di Jalan Lintas Selatan, Desa Wotgalih. Dalam insiden itu, empat orang pelaku membegal korban dan secara sadis membuangnya ke sungai.
Kepala Seksi Humas Polres Lumajang, Ipda Suprapto, mengonfirmasi bahwa dua dari empat tersangka telah diamankan. Mereka adalah NH (24) dan MH (15). Penangkapan dilakukan di Kecamatan Tempeh pada Kamis (30/4/2026).
“Dua pelaku sudah kami amankan, satu di antaranya masih di bawah umur. Dua orang lainnya masih dalam pengejaran intensif,” ujar Ipda Suprapto di Mapolres Lumajang.
Karena melibatkan anak di bawah umur, penanganan MH (15) diserahkan kepada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Kedua tersangka dijerat dengan Pasal 479 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP baru, dengan ancaman pidana maksimal sembilan tahun penjara.
Tragedi Berdarah di Jatiroto
Kekhawatiran warga memuncak ketika kekerasan meningkat menjadi pembunuhan pada Senin dini hari, 4 Mei 2026. AN (46), seorang ibu rumah tangga sekaligus penjual sayur, ditemukan tewas di jurang tepi Jalan Nasional Jember-Lumajang, Kecamatan Jatiroto.
Korban diketahui berangkat dari rumah pukul 04.20 WIB membawa dagangan sayur genjer hasil panennya sendiri. Namun, 30 menit kemudian, tubuh AN ditemukan tanpa nyawa. Hasil visum awal menunjukkan adanya luka bacok di bagian kepala dan lebam parah di wajah, indikasi kuat adanya perlawanan sebelum korban tak berdaya.
“Kalau sehari-hari dia buruh tani, tadi karena genjernya panen dibawa ke pasar untuk dijual,” kata Kholfiyah, kakak korban, dengan suara bergetar saat ditemui di RSUD dr. Haryoto Lumajang.
Tragedi ini merupakan kasus kedua di lokasi yang sama dalam waktu berdekatan. Hanya dua hari sebelumnya, pada Sabtu (2/5/2026), seorang wanita paruh baya asal Jember juga menjadi korban begal di titik yang identik. Dalam kasus tersebut, korban selamat namun mengalami luka-luka dan kehilangan sepeda motor.
Teror Senjata Tajam di Jembatan Grobokan
Belum reda duka atas tewasnya AN, aksi serupa kembali terjadi pada Selasa (5/5/2026) pukul 04.15 WIB. Saiful (37), warga Desa Tempeh Tengah, dipepet oleh empat orang bersenjata celurit saat melintas di Jembatan Grobokan, Kecamatan Kedungjajang.
“Tiba-tiba korban dipepet oleh empat orang dari sisi kanan sambil menodongkan senjata tajam jenis celurit ke arah leher korban. Korban sempat dipukul dengan celurit tapi berhasil menangkis,” jelas Ipda Suprapto.
Beruntung, Saiful tidak mengalami luka serius. Namun, sepeda motor matic miliknya raib dibawa kabur pelaku ke arah utara. Pola serangan yang melibatkan kelompok besar (empat orang) dan penggunaan senjata tajam menunjukkan tingkat keberanian dan keganasan para pelaku yang kian meningkat.
Analisis Polisi dan Imbauan Keamanan
Menyikapi maraknya kejadian ini, Polres Lumajang menyatakan bahwa modus operandi para pelaku cenderung memanfaatkan kelengahan korban yang berkendara sendirian di area minim penerangan dan jauh dari pemukiman warga.
Ipda Suprapto menekankan pentingnya kewaspadaan kolektif. “Kami mengimbau warga yang melintas di Jalan Nasional Jember-Lumajang agar tidak sendirian. Usahakan bergerombol, karena di sana kawasan rawan dan jauh dari permukiman,” tegasnya.
Hingga saat ini, tim gabungan Polres Lumajang terus melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian, serta menggali informasi dari saksi-saksi untuk menangkap sisa pelaku yang masih buron.
Dampak Sosial dan Langkah Preventif
Kasus-kasus ini telah memicu kecemasan mendalam di kalangan masyarakat Lumajang, terutama mereka yang beraktivitas pada dini hari seperti pedagang pasar, pekerja shift pagi, dan pengendara jarak jauh. Aktivitas ekonomi di beberapa titik mulai terdampak karena warga memilih mengurangi perjalanan di jam-jam rawan.
Pakar kriminologi dari Universitas Negeri Malang, Dr. Budi Santoso (dalam analisis terpisah), menilai bahwa keterlibatan remaja dalam komplotan begal sering kali dipicu oleh faktor ekonomi, pergaulan bebas, dan lemahnya pengawasan lingkungan. “Penegakan hukum harus tegas, namun pendekatan preventif melalui pemberdayaan pemuda dan peningkatan patroli masyarakat (Siskamling) di jalur-jalur vital juga mutlak diperlukan,” ujarnya.
Pihak Pemkab Lumajang dikabarkan akan segera menggelar rapat koordinasi darurat dengan Forkopimda untuk mengevaluasi strategi pengamanan, termasuk penambahan titik penerangan jalan umum (PJU) dan posko keamanan di jalur-jalur rawan seperti JLS dan Jalan Nasional Jember-Lumajang.
Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, namun waspada. Jika melihat aktivitas mencurigakan, segera hubungi call center Polres Lumajang atau poskamling terdekat. Solidaritas warga menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai kejahatan jalanan ini.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!