Seekor Gajah Sumatra jinak bernama Indro mati pada usia 45 tahun pada Senin (29/6/2026) pukul 03.45 WIB. Satwa yang telah puluhan tahun menjadi bagian penting dalam upaya konservasi di Taman Nasional Tesso Nilo itu mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan medis intensif.
Tim gabungan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau dan Balai Taman Nasional Tesso Nilo telah memberikan penanganan intensif sejak kondisi kesehatan Indro menurun.
Gangguan kesehatan diduga dipicu oleh penurunan nafsu makan setelah melewati fase musth, yaitu periode peningkatan hormon pada gajah jantan yang umumnya ditandai dengan perilaku lebih agresif dan perubahan kondisi fisiologis.
Hingga kini, pihak Balai TN Tesso Nilo masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab klinis pasti kematian Indro.
Sebelum meninggal, kondisi Indro sempat menunjukkan tanda-tanda membaik. Pada Minggu (28/6/2026) menjelang tengah malam, sekitar pukul 00.16 WIB, ia masih terlihat aktif bergerak dan menunjukkan ketertarikan terhadap makanan.
Namun, beberapa jam kemudian kondisinya memburuk secara mendadak. Tim medis menemukan Indro dalam posisi terbaring dan segera melakukan pemeriksaan darurat serta tindakan resusitasi jantung paru (CPR).
Meski berbagai upaya penyelamatan telah dilakukan, Indro tidak menunjukkan respons dan akhirnya dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB.
Kepergian Indro menjadi kehilangan besar bagi dunia konservasi satwa liar di Indonesia. Selama lebih dari dua dekade, ia merupakan anggota Tim Elephant Flying Squad Balai TN Tesso Nilo yang berperan penting dalam mitigasi konflik antara gajah liar dan manusia di Provinsi Riau.
Bersama para mahout (pawang), Indro secara rutin diterjunkan untuk menggiring kawanan gajah liar yang memasuki kawasan permukiman maupun perkebunan agar kembali ke habitat alaminya.
Peran tersebut terbukti membantu mengurangi konflik, mencegah kerusakan lahan, serta melindungi keselamatan masyarakat maupun populasi gajah liar.
Dedikasi Indro menjadikannya bukan sekadar satwa konservasi, tetapi juga simbol keberhasilan kolaborasi antara manusia dan satwa dalam menjaga kelestarian alam.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi para mahout, petugas konservasi, dan seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam upaya pelestarian gajah Sumatra di Indonesia.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!