37 Adegan Rekonstruksi Ungkap Detik-Detik Manusia Silver Probolinggo Tewas Dihantam Aspal

37 Adegan Rekonstruksi Ungkap Detik-Detik Manusia Silver Probolinggo Tewas Dihantam Aspal
liputanjayaraya.com,

Sebanyak 37 adegan diperagakan dalam rekonstruksi kasus penganiayaan yang menewaskan Andika Wahyu Santoso (22), seorang manusia silver di Kota Probolinggo, Jawa Timur.

Dari reka ulang tersebut, terungkap dugaan cekcok mulut yang dipicu perkataan menyinggung perasaan berujung pada aksi kekerasan menggunakan bongkahan aspal hingga korban meninggal dunia.

Rekonstruksi yang digelar Satreskrim Polres Probolinggo Kota itu memperagakan rangkaian peristiwa sejak kedua tersangka berkumpul, terlibat pertengkaran, hingga melakukan penganiayaan terhadap korban.

Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota AKP Didik Hariyono mengatakan, dugaan penganiayaan tersebut bermula dari perselisihan spontan.

“Adapun motif penganiayaan diduga spontan, yang diawali dengan cekcok dan dipicu oleh kata-kata,” ujar Didik, Sabtu (31/10/2026).

Dalam rekonstruksi tersebut, dua tersangka berinisial NAS dan AH memperagakan peran masing-masing. Berdasarkan hasil reka ulang, korban mengalami penganiayaan menggunakan bongkahan aspal hingga akhirnya meninggal dunia.

Jasad Andika sebelumnya ditemukan di area belakang sebuah warung kopi di Kelurahan Pilang, Kota Probolinggo.

Didik menjelaskan, rekonstruksi merupakan bagian dari proses penyidikan untuk memperjelas keterlibatan masing-masing tersangka dalam peristiwa yang terjadi pada Senin (22/6/2026).

“Ini bagian dari rangkaian penyidikan untuk mengetahui secara riil peran pelaku A dan pelaku B,” tegasnya.

Usai kejadian, NAS dan AH yang diketahui merupakan warga Kabupaten Lumajang sempat melarikan diri. Keduanya kemudian berhasil ditangkap polisi di sebuah tempat kos di Kota Kediri pada 29 Juli 2026.

Meski dua tersangka telah diamankan, penyidik masih memburu seorang pelaku lainnya yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Polisi kini mematangkan berkas perkara berdasarkan hasil rekonstruksi sebelum dilimpahkan ke pengadilan.

Namun, di balik 37 adegan yang memperjelas rangkaian dugaan penganiayaan tersebut, terselip kesedihan mendalam dari seorang ibu yang harus menyaksikan kembali detik-detik terakhir kehidupan anaknya.

Indra Susanti, ibu kandung Andika, hadir langsung dalam rekonstruksi. Ia tak kuasa menahan kesedihan saat menyaksikan adegan demi adegan yang menggambarkan peristiwa tragis yang merenggut nyawa putranya.

Kesedihan Indra semakin terasa ketika mengingat komunikasi terakhir bersama Andika. Sebelum meninggal dunia, sang anak sempat bercerita tentang keinginannya membeli sepeda motor menggunakan hasil jerih payahnya sendiri, meski tabungannya saat itu belum mencukupi.

Keinginan sederhana tersebut kini hanya tinggal kenangan. Seorang ibu harus menerima kenyataan bahwa harapan anaknya untuk memiliki sepeda motor tak lagi bisa terwujud.

Di tengah duka yang belum berakhir, Indra berharap seluruh pelaku mendapatkan hukuman berat dan setimpal dengan perbuatan mereka.

“Kenangan itu yang masih saya ingat sebelum akhirnya anak saya ditemukan meninggal. Saya berharap para pelaku dihukum seberat-beratnya dan setimpal,” pungkasnya.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Shohib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *