Perairan Masalembo di Jawa Timur kembali menjadi sorotan setelah kawasan tersebut kerap dikaitkan dengan berbagai kecelakaan transportasi laut maupun udara. Rentetan tragedi itu kemudian melahirkan julukan “Segitiga Bermuda Indonesia”.
Julukan tersebut merujuk pada kawasan perairan yang dianggap rawan kecelakaan, serupa dengan istilah Segitiga Bermuda di lepas pantai Amerika Utara.
Namun, anggapan bahwa kecelakaan di Masalembo berkaitan dengan kekuatan mistis atau fenomena “sedotan” laut hingga kini tidak memiliki dasar ilmiah.
Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Transportasi Laut Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Capt. Amin Musafa, menegaskan bahwa tingginya angka kecelakaan di suatu wilayah tidak otomatis membuktikan adanya fenomena misterius.
«“Memang sering terjadi kecelakaan pada area-area tersebut, namun itu hanyalah mistis yang sering muncul di kalangan masyarakat Indonesia, namun belum terbukti secara ilmiah,” kata Amin saat diwawancarai Tribunnews Redaksi Solo, Senin (14/9/2026).»
Menurut Amin, rentetan kecelakaan di kawasan Masalembo seharusnya ditempatkan dalam konteks keselamatan pelayaran nasional.
Sebab, persoalan kecelakaan kapal di Indonesia masih tergolong tinggi dan tidak hanya terjadi di satu wilayah.
Berdasarkan data Mahkamah Pelayaran yang dirujuk MTI, sepanjang 2020 hingga 2026 tercatat 122 kasus kecelakaan kapal.
Bahkan, sepanjang Agustus 2026 saja tercatat empat kapal mengalami kebakaran. Tiga di antaranya merupakan kapal penumpang, sedangkan satu lainnya kapal tug boat.
“Data tersebut menunjukkan persoalan keselamatan pelayaran tidak bisa semata-mata dilekatkan pada karakteristik satu kawasan tertentu,” jelasnya.
Tampomas II hingga Adam Air
Nama Masalembo memiliki sejarah panjang dalam catatan kecelakaan transportasi Indonesia. Dua tragedi besar yang kerap dikaitkan dengan kawasan tersebut adalah KMP Tampomas II pada 1981 dan pesawat Adam Air penerbangan 574 pada 2007.
Berbagai kecelakaan kapal lainnya kemudian ikut memperkuat citra Masalembo sebagai kawasan yang dianggap berbahaya.
Namun, banyaknya kecelakaan di sebuah wilayah tidak serta-merta membuktikan adanya kekuatan misterius. Faktor cuaca, kondisi laut, navigasi, kondisi kapal, kesalahan manusia, hingga kepatuhan terhadap prosedur keselamatan tetap harus menjadi bagian dari analisis.
Amin menyebut pola kecelakaan kapal secara nasional justru menunjukkan adanya persoalan keselamatan yang dapat ditelusuri secara teknis.
“Dari data saat ini rata-rata kecelakaan kapal 36 persen tabrakan dan 24 persen tenggelam,” katanya.
Dua jenis kecelakaan tersebut menyumbang porsi besar dari keseluruhan kejadian kecelakaan kapal.
Karena itu, MTI mendorong agar perhatian tidak berhenti pada mitos mengenai kawasan tertentu. Penguatan standar keselamatan, kepatuhan terhadap regulasi, kesiapan awak kapal, serta pengawasan operasional dinilai jauh lebih penting untuk menekan angka kecelakaan.
“Saran dari MTI adalah dengan cara benar-benar menerapkan aturan-aturan yang berlaku sehingga dapat mengurangi angka kecelakaan di Indonesia,” tegas Amin.
Masalembo boleh menyimpan banyak cerita. Namun, keselamatan pelayaran tidak seharusnya dijelaskan dengan mitos. Fakta, regulasi, kesiapan manusia, kondisi kapal, dan faktor alam harus menjadi dasar untuk memahami setiap kecelakaan.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
