Bagi masyarakat pesisir Jawa Timur, khususnya di kawasan Selat Madura, petis bukan sekadar pelengkap hidangan. Saus kental berwarna gelap ini menjadi “jantung rasa” dalam berbagai kuliner legendaris seperti tahu tek, rujak cingur, lontong balap, hingga lontong kupang.
Meski tampak serupa, petis sebenarnya memiliki karakter yang berbeda tergantung daerah asalnya. Dua jenis yang paling dikenal adalah Petis Surabaya dan Petis Madura. Perbedaan keduanya bisa dikenali dari bahan baku, warna, tekstur, hingga cita rasa.
🔷 Bahan Baku: Udang vs Ikan
Perbedaan paling mendasar terletak pada bahan utama pembuatannya.
Petis Surabaya umumnya dibuat dari sari udang, yakni hasil rebusan udang yang kemudian diolah hingga mengental. Sementara itu, Petis Madura berasal dari sari ikan laut seperti pindang atau cakalang yang direbus hingga menjadi kaldu kental.
Meski demikian, terdapat pula variasi petis di Surabaya yang menggunakan bahan ikan, namun tetap dimasak dengan tambahan gula hingga menghasilkan warna yang lebih gelap.
🔷 Warna dan Tekstur: Pekat vs Cerah
Secara visual, kedua jenis petis ini cukup mudah dibedakan:
Petis Surabaya (petis udang) berwarna hitam pekat dengan tekstur kental dan liat seperti pasta.
Petis Madura cenderung berwarna cokelat kemerahan dengan tekstur lebih cair, menyerupai karamel.
🔷 Cita Rasa: Manis Gurih vs Asin Kuat
Perbedaan lainnya terletak pada rasa.
Petis Surabaya dikenal dengan rasa manis gurih karena penggunaan gula merah atau gula pasir yang cukup dominan. Rasa ini sangat cocok untuk hidangan seperti tahu tek dan tahu campur.
Sebaliknya, Petis Madura memiliki rasa yang lebih asin dengan aroma laut yang kuat. Karakter ini membuatnya cocok sebagai bumbu utama rujak buah atau rujak lontong khas Madura.
🔷 Warisan Sejak Abad Ke-7
Petis bukanlah produk kuliner modern. Jejaknya sudah ada sejak abad ke-7 di pesisir utara Jawa. Awalnya, petis merupakan hasil kreativitas nelayan dalam mengolah sisa rebusan ikan dan udang agar lebih awet.
Catatan sejarah juga menyebutkan bahwa petis telah dikenal pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles, yang menyinggung olahan ini dalam tulisannya tentang Jawa. Bahkan dalam naskah Babad Cirebon, petis disebut telah dikenal sejak masa Kerajaan Pajajaran.
🔷 Lebih dari Sekadar Bumbu
Bagi masyarakat Madura, petis memiliki makna lebih dalam. Selain sebagai penyedap, petis juga merupakan bentuk teknologi pangan tradisional.
Dengan mengentalkan sari hasil laut, petis memungkinkan bahan makanan bertahan lebih lama tanpa kehilangan cita rasa. Prinsip ini mirip dengan saus modern yang dibuat dari kaldu, hanya saja petis diolah secara sederhana tanpa banyak tambahan.
Petis Surabaya dan Petis Madura mungkin terlihat serupa di etalase toko oleh-oleh. Namun di balik tampilannya, keduanya menyimpan perbedaan rasa dan filosofi yang mencerminkan kekayaan kuliner Nusantara.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!