Terik matahari siang membakar aspal jalur Pantura Karawang, seolah menguji setiap langkah yang dipijak Arifin. Debu jalanan menempel di wajahnya, napasnya berat, sementara tas sederhana di pundaknya terasa kian menghimpit. Namun di balik kelelahan itu, ada satu hal yang tak pernah goyah: tekadnya untuk pulang.
Bagi Arifin, ini bukan sekadar perjalanan mudik. Ini adalah panggilan hati—sebuah misi kemanusiaan paling pribadi. Ia harus sampai ke Surabaya, menjemput waktu yang mungkin tak banyak tersisa bersama ibunya yang tengah sakit.
Perjalanan panjang itu dimulai dari Sumatera. Tanpa biaya yang cukup, Arifin menempuh cara seadanya: menumpang dari satu truk ke truk lain, berpindah tanpa kepastian. Hingga akhirnya, ia tiba di Bekasi—titik di mana harapan mulai diuji lebih keras.
Bekal habis. Uang tak tersisa. Sementara Surabaya masih ratusan kilometer jauhnya.
Dalam keterbatasan yang nyaris melumpuhkan, Arifin mengambil keputusan berani—melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalur Pantura.
Hari demi hari ia lalui dengan langkah tertatih. Panas menyengat, lapar, dan kelelahan menjadi teman setia. Tubuhnya dipaksa terus bergerak, meski tenaga kian menipis. Hingga akhirnya, di wilayah Karawang, langkahnya nyaris terhenti.
Di pinggir jalan, dengan kondisi lelah dan tak berdaya, Arifin ditemukan oleh petugas Pos Pengamanan Polres Karawang yang tengah berjaga dalam Operasi Ketupat 2026.
Awalnya, ia tampak seperti pemudik biasa yang kelelahan. Namun setelah diajak berbincang, kisah sebenarnya perlahan terungkap.
“Dia hendak ke Surabaya, tapi tidak punya ongkos. Sudah berjalan kaki cukup jauh dari Bekasi,” ungkap Kasi Humas Polres Karawang, IPDA Cep Wildan.
Mendengar cerita tersebut, jajaran kepolisian tak tinggal diam. Atas arahan Kapolres Karawang AKBP Fiki N. Ardiansyah, bantuan segera diberikan.
Arifin tak hanya diberi tempat beristirahat dan makanan hangat. Ia juga diantar ke terminal bus terdekat. Bahkan, petugas membelikan tiket bus tujuan Surabaya lengkap dengan uang saku untuk bekal di perjalanan.
Tak berhenti di situ, petugas juga memastikan Arifin dititipkan kepada kru bus agar perjalanannya aman hingga tiba di tujuan.
Di dalam bus yang akhirnya ia tumpangi, mata Arifin berkaca-kaca. Perjalanan panjang penuh perjuangan itu kini menemukan titik terang.
Bantuan yang ia terima bukan sekadar ongkos perjalanan. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan—kesempatan untuk kembali menjadi seorang anak yang bisa berada di sisi ibunya di saat paling dibutuhkan.
Dengan suara bergetar, Arifin hanya mampu mengucapkan terima kasih. Kata-kata sederhana yang memuat rasa haru, lega, dan syukur setelah melewati perjalanan yang nyaris mustahil.
Kisah Arifin menjadi pengingat, bahwa di balik hiruk-pikuk arus mudik, tersimpan cerita-cerita sunyi tentang perjuangan dan cinta keluarga.
Dan di tengah perjalanan itu, kehadiran tangan-tangan yang peduli bisa menjadi pembeda—antara putus asa dan harapan.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!