Surabaya ,– Di balik rangka baja tua yang menjulang di tepi Sungai Kalimas, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting denyut kehidupan Kota Pahlawan. Bangunan itu adalah Jembatan Petekan, sebuah jembatan peninggalan masa kolonial Belanda yang kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, namun ironisnya masih belum banyak warga yang benar-benar mengetahui kisah di balik nama dan peran besarnya di masa lampau.
Berlokasi di wilayah Surabaya, tepatnya di kawasan utara kota yang masuk wilayah Kecamatan Semampir, Jembatan Petekan berdiri melintang di atas aliran Sungai Kalimas. Sungai inilah yang pada masa kolonial menjadi jalur utama distribusi barang, bahan pangan, dan hasil bumi menuju pusat-pusat perdagangan di dalam kota.
Asal-usul Nama “Petekan”
Nama “Petekan” bukan berasal dari bahasa Belanda, melainkan dari istilah masyarakat setempat. Dalam dialek Jawa Surabaya, kata petek berarti menekan atau memencet. Sebutan ini muncul karena pada masanya, jembatan tersebut dapat dioperasikan dengan sistem mekanik. Ketika kapal besar akan melintas di bawah jembatan, petugas cukup “memencet” tuas atau tombol penggerak agar bagian jembatan terangkat.
Dari kebiasaan itulah, masyarakat kemudian menyebutnya sebagai “jembatan yang dipetek”, hingga akhirnya lebih dikenal dengan nama Jembatan Petekan. Nama lokal ini justru lebih melekat di ingatan warga dibandingkan nama resminya pada era kolonial.
Nama Asli di Masa Belanda
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, jembatan ini sesungguhnya memiliki nama resmi Ferwerda Brug. Kata brug dalam bahasa Belanda berarti jembatan. Nama tersebut diambil untuk menghormati seorang perwira tinggi angkatan laut Belanda, yakni Admiraal Ferwerda.
Penggunaan nama tokoh militer untuk fasilitas infrastruktur pada masa itu merupakan hal yang lazim, sekaligus menunjukkan bahwa jembatan ini dipandang memiliki peran strategis dalam sistem transportasi dan pertahanan kota pelabuhan Surabaya.
Dibangun untuk Menopang Jalur Perdagangan
Jembatan Petekan dibangun pada awal abad ke-20, ketika Surabaya sedang berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan industri di kawasan timur Hindia Belanda. Pembangunannya dikerjakan oleh perusahaan teknik asal Belanda, N.V. Machinefabriek Braat & Co, yang dikenal menangani berbagai proyek konstruksi baja dan mesin berat di wilayah koloni.
Struktur jembatan dirancang menggunakan rangka baja besar dengan sistem angkat mekanik. Pada masanya, teknologi ini tergolong modern. Fungsi utama jembatan bukan hanya sebagai penghubung lalu lintas darat, tetapi juga sebagai bagian dari sistem lalu lintas air yang sangat vital.
Sungai Kalimas menjadi jalur utama perahu dan kapal pengangkut barang. Dari pelabuhan dan muara, kapal-kapal membawa beras, gula, hasil perkebunan, bahan bangunan, hingga komoditas ekspor menuju gudang-gudang dan kawasan niaga di pusat kota.
Ketika kapal besar hendak melintas, jembatan akan diangkat agar tidak menghalangi lalu lintas sungai. Setelah kapal lewat, jembatan kembali diturunkan untuk dilalui pejalan kaki, pedati, dan kendaraan darat. Inilah sebabnya, Jembatan Petekan kerap disebut sebagai salah satu “gerbang perekonomian” Surabaya pada masa kolonial.
Peran Strategis bagi Wajah Kota Lama Surabaya
Keberadaan Jembatan Petekan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kawasan utara Surabaya. Di sepanjang aliran Kalimas berdiri gudang, pasar, dermaga kecil, serta jalur distribusi yang menghubungkan pusat kota dengan kawasan industri dan pelabuhan.
Bagi masyarakat pada masa itu, jembatan ini bukan sekadar sarana penyeberangan. Ia menjadi titik pertemuan antara dua sistem transportasi utama: sungai dan darat. Aktivitas bongkar muat, pergerakan pekerja, hingga distribusi bahan pokok seluruhnya bergantung pada kelancaran arus di sekitar jembatan ini.
Dengan kata lain, Jembatan Petekan menjadi salah satu infrastruktur kunci yang menopang transformasi Surabaya dari kota pelabuhan tradisional menjadi kota modern berbasis industri dan perdagangan.
Tidak Lagi Berfungsi, Namun Tetap Berdiri
Seiring perkembangan zaman, peran Sungai Kalimas sebagai jalur transportasi utama mulai menurun. Pendangkalan sungai, perubahan pola distribusi logistik, serta meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor membuat jalur darat menjadi jauh lebih dominan.
Memasuki dekade 1980-an, sistem mekanik Jembatan Petekan tidak lagi dioperasikan. Bagian jembatan yang dahulu dapat terangkat kini dibiarkan dalam posisi tetap. Meski demikian, rangka baja, tiang utama, serta struktur penggerak masih dapat dilihat dengan jelas hingga hari ini.
Ditetapkan sebagai Cagar Budaya
Menyadari nilai sejarah yang besar, Pemerintah Kota Surabaya kemudian menetapkan Jembatan Petekan sebagai bangunan cagar budaya. Penetapan ini bertujuan untuk melindungi keberadaan jembatan dari risiko pembongkaran maupun perubahan bentuk yang dapat menghilangkan nilai keasliannya.
Status cagar budaya menjadikan Jembatan Petekan bukan hanya aset fisik, tetapi juga warisan sejarah kota yang merekam perjalanan Surabaya sebagai pusat perdagangan dan pelayaran di masa kolonial.
Saksi Bisu Perubahan Zaman
Kini, di tengah hiruk-pikuk lalu lintas modern dan pembangunan kota yang terus bergerak, Jembatan Petekan berdiri sebagai saksi bisu perubahan zaman. Rangka besi yang mulai menua, bekas mekanisme pengangkat yang tidak lagi berfungsi, serta posisinya yang menghadap langsung ke arus kendaraan di sekitarnya, seolah mengingatkan bahwa Surabaya pernah tumbuh besar berkat sungai-sungainya.
Banyak warga yang melintas di sekitar kawasan ini setiap hari, namun hanya sedikit yang menyadari bahwa di balik nama sederhana “Petekan”, tersimpan cerita tentang teknologi maju pada masanya, tentang peran sungai sebagai nadi perekonomian, dan tentang bagaimana kota ini membangun fondasi kejayaannya.
Jembatan Petekan bukan hanya peninggalan kolonial, tetapi bagian dari identitas sejarah Surabaya. Menjaga dan mengenalkan kisahnya kepada generasi muda menjadi langkah penting agar warisan kota tidak sekadar menjadi latar foto, melainkan tetap hidup sebagai sumber pengetahuan dan kebanggaan bersama.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!