MALANG — Sejumlah keluarga korban Tragedi Kanjuruhan menggelar aksi diam dan doa bersama di Gate 13 Stadion Kanjuruhan pada Jumat sore (3/4). Aksi tersebut menjadi bentuk penolakan terhadap rencana pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya yang dijadwalkan berlangsung pada 28 April mendatang.

Dalam suasana hening dan penuh haru, lima keluarga korban tampak berdiri di area yang menjadi salah satu titik paling dikenang dalam tragedi tersebut. Mereka memanjatkan doa sekaligus menyampaikan aspirasi agar penggunaan stadion untuk pertandingan besar ditunda.
Ifah, salah satu keluarga korban, menyampaikan bahwa rencana laga tersebut berpotensi membuka kembali luka lama yang hingga kini belum sepenuhnya pulih. Ia menegaskan bahwa kenangan pahit atas peristiwa yang merenggut banyak nyawa itu masih membekas kuat di hati para keluarga.
“Bukan karena benci kepada Persebaya atau siapa pun. Tapi kami merasa belum waktunya stadion ini digunakan untuk pertandingan besar sebelum semuanya benar-benar selesai,” ujarnya.
Menurutnya, proses penuntasan kasus dan rasa keadilan bagi para korban masih menjadi harapan yang belum sepenuhnya terpenuhi. Karena itu, mereka meminta semua pihak, termasuk penyelenggara kompetisi dan otoritas terkait, untuk mempertimbangkan aspek kemanusiaan dalam mengambil keputusan.
Aksi yang berlangsung damai tersebut juga menjadi pengingat bahwa tragedi yang terjadi di stadion tersebut bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan luka yang masih dirasakan hingga saat ini. Para keluarga berharap, sebelum aktivitas pertandingan kembali digelar, ada kejelasan dan penyelesaian menyeluruh terhadap kasus tersebut.
Rencana pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya sendiri menjadi sorotan publik, mengingat rivalitas kedua tim yang dikenal tinggi serta sensitivitas lokasi pertandingan. Sejumlah pihak menilai, langkah kehati-hatian diperlukan agar tidak memicu polemik maupun melukai perasaan keluarga korban.
Meski menyampaikan penolakan, keluarga korban menegaskan bahwa aksi mereka bukan ditujukan untuk menyulut konflik, melainkan sebagai bentuk kepedulian dan upaya menjaga agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!